Penanggulangan HIV AIDS Dengan LARAS TOP BINGITZ

Depok (22/12/2020) bertempat di Sasana Anglocitatama kapanewon Depok telah dilaksanakan kegiatan pertemuan lintas sektoral tingkat kapanewon Depok dengan agenda memperkenalkan program inovasi Puskesmas Depok III yaitu LARAS TOP BINGITZ. Drg. MA. Kristi Rutyadi dalam sambutannya, sejauh ini pasien terinfeksi virus HIV di kapanewon Depok sejumlah 294 jumlah tersebut terjadi peningkatan kasus di setiap tahunnya sejak tahun 2014 hingga tahun 2020. Untuk memutus rantai penularan virus HIV, perlu adanya peran serta stakholder seperti panewu, lurah dan tokoh masyarakat, imbuhnya

Abu Bakar, S.Sos., M.Si Panewu Depok dalam sambutannya, kapanewon Depok merupakan wilayah dengan mobilitasnya cukup tinggi yaitu banyak mahasiswa keluar masuk dari luar daerah, banyak kafe 24 jam, dan banyak kos-kosan yang tanpa induk semangnya. Berdasarkan hal tersebut di kapanewon Depok sering terjadi pergaulan bebas, imbuhnya.

Mukti Purwaniningrum, SST menerangkan, LARAS merupakan Layanan Ramah Komunitas yang berkolaborasi dengan TOP BINGITZ yaitu Temukan, Obati, Peduli Dan Bimbing Orang Dengan HIV AIDS serta Pengguna Napza yang merupakan program inovasi Puskesmas Depok III bertujuan untuk mendekatkan akses pelayanan pemeriksaan HIV dan pengobatan pasien yang terinfeksi HIV pada komunitas yang beresiko sehingga dapat meningkatkan penemuan kasus HIV di wilayah kerja Puskesmas Depok III. Bedirinya program inovasi tersebut hal ini dikarenakan meningkatnya pasien terinfeksi virus  HIV dan banyak pasien terinfeksi virus HIV yang putus pengobatan, jelasnya.

Lanjut Mukti dalam paparannya, saat ini Puskesmas Depok III memiliki poli Bintang Kejora. Poli tersebut merupakan layanan PDP (Perawatan dengan Pengobatan) yang bertujuan untuk pendampingan dan pengobatan untuk ODHA (Orang Dengan HIV AIDS)  sehingga pasien tersebut akan dipantau dalam pengobatan dan diberikan dukungan selama pengobatan. Menurutnya, selain pelacakan kasus HIV, target 3 Zero perlu diperhatikan adalah memutus rantai stigma di masyarakat kepada ODHA. Stigma terhadap ODHA ini merupakan salah satu masalah yang menyebabkan angka pengobatan terhambat dan menyebabkan penularan mata rantai sulit untuk diputus. (AS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *