AUTHORITATIVE PARENTING STYLE : WHAT PARENTS NEED TO KNOW

AUTHORITATIVE PARENTING STYLE : WHAT PARENTS NEED TO KNOW

Aini Rahma // Mahasiswa Layanan Psikologi Profesi Psikolog Umum

Permasalahan mengenai pola asuh sedang menjadi tren paling banyak dibicarakan. Acap kali, ketika individu mengalami konflik dengan orang lain, aspek yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana cara individu tersebut tumbuh, didikan seperti apa yang diberikan oleh orang tuanya, dan asumsi lainnya terkait pola asuh. Maka dari itu, penting bagi orang tua untuk memberikan pola asuh yang dapat membentuk kepribadian adaptif sehingga mengurangi tendensi konflik ketika anak berada di lingkungan masyarakat yang beragam.

Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua merupakan bekal paling penting bagi anak dalam menghadapi lingkungan di masyarakat yang lebih beragam karena dengan pola asuh dapat diketahui potensi dan karakter anak. Pola asuh  mempengaruhi perkembangan emosional, kognitif, dan sosial anak1. Seiring dengan bertambah dewasanya individu, maka perkembangan yang dialami akan diinternalisasi menjadi kepribadian. Contohnya, anak yang diajarkan untuk memiliki jadwal belajar yang teratur maka cenderung tumbuh menjadi anak yang terbiasa disiplin dengan jadwal belajarnya. Artikel ini akan membahas salah satu pola asuh yang bisa diterapkan untuk mendorong pembentukan kepribadian yang adaptif.

Salah satu tokoh psikologi perkembangan, Baumrind2 menyampaikan ada tiga jenis pengasuhan, yakni otoriter, demokratis, dan permisif. Pola asuh otoriter menekankan pada ketundukan anak, demokratis menekankan keseimbangan antara tekanan dan dukungan, serta permisif menekankan pada kebebasan. Pola kepribadian maupun efek dari setiap jenis pola asuh tentu akan berbeda terhadap satu sama lain, akan tetapi setiap jenis pola asuh pastinya menentukan keberhasilan pendidikan karakter oleh keluarga. Pola asuh otoriter dan permisif cenderung menghasilkan anak dengan kepribadian yang kurang adaptif. Anak dengan pola asuh otoriter cenderung mengalami kesulitan dalam bertanggung jawab, mengambil keputusan, dan rentan mengalami depresi. Selaras dengan otoriter, pola asuh permisif juga cenderung mengalami kesulitan untuk mengontrol diri bahkan melakukan hal-hal yang menentang norma sosial.

Maka dari itu, disarankan bagi orang tua untuk menggunakan pola asuh demokratis agar anak dapat memunculkan kepribadian demokratis. Menurut Ayun3, pola asuh demokratis merupakan pola asuh yang memberikan dukungan yang dibersamai dengan penerapan kewajiban kepada anak dan membangun komunikasi terbuka dengan anak sehingga anak terbiasa untuk terbuka, bertanggung jawab, dan mandiri. Pola asuh demokratis tentu saja masih menekankan ekspektasi kepada anak. Pada pola asuh demokratis, orang tua aktif memberikan reaksi, dukungan, feedback ketika anak menjalankan kewajibannya seperti bersekolah, mengerjakan tugas, mengerjakan pekerjaan rumah, dan lain-lain. Keseimbangan antara dukungan dengan kewajiban yang diberikan kepada anak, dapat membangun kepribadian anak yang percaya diri, mampu bersosialisasi dengan baik, dan berhasil secara akademik4.

Penerapan pola asuh demokratis bisa dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya1 :

  1. Memberikan dukungan secara emosional kepada anak. Contohnya, memberikan apresiasi ketika anak mendapatkan kejuaraan, menunjukkan validasi atau pemahaman ketika anak merasa sedih, mendukung anak untuk mengucapkan maaf kepada orang lain, dan lain-lain.
  2. Menetapkan batasan-batasan yang jelas dan disepakati oleh orang tua dan anak. Contohnya, anak boleh memiliki akses ponsel maupun gawai lainnya saat anak sudah menyelesaikan tugas sekolah maupun jadwal belajar rutinnya, anak tidak boleh main di luar rumah melebihi waktu sore sehingga anak akan bermain oleh orang tua di rumah sebelum jam istirahat.
  3. Menentukan ekspektasi dan toleransi bersama. Contohnya, orang tua berekspektasi anaknya bisa melalui masa ujian sekolah dengan baik. Ketika hasilnya sesuai dengan ekspektasi, orang tua memberikan apresiasi, sedangkan ketika tidak sesuai, orang tua mau memberikan apresiasi atas usaha anak dan mendukung anak untuk belajar lebih lanjut dengan bantuan.

Berdasarkan penelitian Maccoby dan Martin5, anak dengan pola asuh demokratis dapat mengembangkan kemampuan menyelesaikan permasalahan dengan baik. Hal ini mendukung anak untuk tidak berkonflik dengan orang lain di lingkungan yang lebih luas. Selain itu, anak dengan pola asuh demokratis mampu memiliki kontrol emosi yang baik sehingga kecil kemungkinan anak mengalami depresi dan menunjukkan perilaku maladaptif6. Perilaku maupun situasi maladaptif yang dapat muncul adalah cemas, merasa tidak berharga, tidak percaya diri,  dan merasa kurang. Maka dari itu, dukungan dari orang tua pada anak di masa perkembangannya sangatlah penting karena akan memunculkan efek jangka panjang. Hadirnya dukungan dari orang tua dapat meningkatkan rasa berharga dan aman untuk berkembang di lingkungan yang lebih luas7.

 

Referensi :

  1. Kausar, R. Afaq, U. (2024). The effects of parenting styles on child development. Jahan Tahqeeq. 7(2). 856-866.
  2. Baumrind, D. 1991. The influence of parenting style on adolescent competence and substance use. The Journal of Early Adolescence. 11(1). 56-95.
  3. Ayun, Q. (2017). Pola asuh orang tua dan metode pengasuhan dalam membentuk kepribadian anak. Jurnal Thufula. 5(1).
  4. Fazli, M. (2019). Impact of Parenting Styles on Child Development.
  5. Maccoby, E. E. (1992). The role of parents in the socialization of children: An historical overview. Developmental Psychology. 28(6). 1006–1017.
  6. Rothrauff, T. C. et al. (2009). Remembered parenting styles and adjustment in middle and late adulthood. Journal of Gerontology: Social Sciences. 64B(1). 137–146.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *