DATA KESEHATAN

LAYANAN, SARANA DAN TENAGA KESEHATAN

 

A.   Layanan Kesehatan

Beberapa jenis layanan kesehatan yang diberikan baik utama maupun penunjang mengacu kepada Peraturan Bupati Sleman nomor 60 tahun 2016 Pembentukan Pusat Kesehatan Masyarakat. Upaya-upaya kesehatan yang dilaksanakan di Pusat Kesehatan Masyarakat Depok III juga mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, antara lain: Upaya Kesehataan Masyarakat (UKM) dan Keperawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), Kefarmasian dan Laboratorium.

 

B.     UKM dan Perkesmas

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2014 Tentang Pusat Kesehatan Masyarakat Pasal 36, bahwasannya puskesmas harus menyelenggarakan upaya UKM dan Perkesmas, antara lain:

1.   UKM Esensial dan Perkesmas

a.    Pelayanan Promosi Kesehatan

Kegiatan promosi kesehatan dilakukan dalam bentuk kegiatan Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Pembinaan UKBM. PHBS meliputi tatanan rumah tangga, institusi pendidikan, institusi kesehatan, dan tatanan tempat kerja.

  • Tatanan Rumah Tangga

Jumlah rumah tangga tahun 2017 sebanyak 18.878 rumah tangga, Untuk PHBS tahun 2017 tatanan rumah tangga berhasil dipantau sebanyak 7.338 rumah tangga dan telah melaksanakan PHBS sebanyak 4.954 rumah tangga (67,51%). Angka ini menunjukkan adanya peningkatan keluarga ber-PHBS dibanding tahun 2016 (48.67%).

 

Capaian PHBS  selama tahun 2016-2017 mengalami peningkatan. Dari tahun 2016 capai PHBS rendah karena metode survey yang terjadi perubahan. Sedang di tahun 2017 semua dusun di KK di desa Caturtunggal di survey.

  • PHBS Tatanan Pendidikan

Puskesmas Depok III melaksanakan pemantauan PHBS tatanan institusi pendidikan satu kali dalam satu tahun. Adapun pemantauan dilaksanakan di seluruh sekolah di wilayah kerja Puskesmas Depok III mulai dari TK, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Luar Biasa (SLB). Pemantauan PHBS Pendidikan ini dilaksanakan oleh petugas Promkes dari Puskesmas. Adapun hasil pemantauan PHBS Institusi Pendidikan  sebagai berikut:

diketahui bahwa capaian PHBS untuk institusi pendidikan yang masih rendah adalah tidak merokok di lingkungan sekolah hal tersebut masih ada warga sekolah yang ditemui melakukan perilaku merokok di lingkungan sekolah.

  • Kemandirian Posyandu

Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Depok III  berjumlah 36 posyandu yang tersebar di 20 pedukuhan. Dari 36 Posyandu tersebut klasifikasi kemandiriannya meliputi :

  1. Klasifikasi Posyandu Pratama (2 Posyandu dengan persentase 5,88%)
  2. Klasifikasi Posyandu Madya (8 Posyandu dengan persentase 23,52%)
  3. Klasifikasi Posyandu Purnama (0 Posyandu dengan persentase 0%)
  4. Klasifikasi Posyandu Mandiri (25 Posyandu dengan persentase 73,52%).

 

Sebanyak 73,52% sudah masuk ke kategori mandiri. Sedangkan sisanya masih masuk dalam ktegori pratama dan madya karena posyandu tersebut masih baru di bentuk. Sehingga di perlukan pembinaan lebih lanjut agar bisa masuk ke kategori purnama ataupun mandiri.

  • Desa Siaga

Jumlah Desa di wilayah kerja berjumlah 1 Desa. Desa siaga di Desa Caturtunggal termasuk desa siaga dengan kategori desa siaga aktif. Kegiatan yang ada dari Desa Siaga aktif meliputi :

  1. Kegiatan SMD
  2. Kegiatan MMD
  3. Pembinaan UKBM (posyandu balita,posyandu lansia,posbindu)
  4. Pemantauan PHBS,pemantauan jentik,rumah sehat
  5. Surveilans penyakit

Permasalahan desa siaga untuk wilayah kerja Puskesmas Depok III belum tercapai untuk kategori desa siaga purnama dan mandiri dikarenakan belum ada sarana yang meliputi ruangan. Hal ini dikarenakan Desa Caturtunggal sedang proses membangun balai desa sehingga belum ada alokasi ruangan untuk poskesdes.

 

  • Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)

Salah satu pengembangan di masyarakat, Puskesmas Depok III memberdayakan masyarakat untuk lebih mandiri dalam upaya kesehatan. Berikut ini adalah capain Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat tahun 2017:

Dari UKBM yang ada di dusun semua posyandu sudah ada, tetapi untuk poskesdes belum ada dikarenakan Desa Caturtunggal masih dalam tahap pembangunan gedung.

 

b.     Pelayanan Kesehatan Lingkungan

Kegiatan Kesehatan Lingkungan meliputi :

  • Pemeriksaan rumah sehat

Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia disamping sandang dan papan, sehingga rumah harus sehat agar penghuninya dapat bekerja secara produktif. Upaya pengendalian factor risiko yang mempengaruhi timbulnya ancaman kesehatan telah diatur dalam Kepmenkes RI No. 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang persyaratan perumahan. Dalam penilaian rumah sehat menurut kepmenkes tersebut meliputi 3 kelompok komponen penilaian, yaitu :

  1. Kelompok komponen rumah : langit-langit, dinding, jendela kamar/ruang, ventilasi dan pencahayaan.
  2. Kelompok sarana sanitasi : sarana air bersih, pembuangan air limbah, jamban dan sarana pembuangan limbah.
  3. Kelompok perilaku penghuni: kebiasaan membuka jendela, membuang kotoran anak/bayi, membersihkan halaman/lantai.

 

Berdasarkan data tersebut, jumlah rumah yang ada 20.129 rumah, sedangkan rumah yang memenuhi syarat kesehatan 19.757 rumah dan yang tidak memenuhi syarat 372 rumah. Prosentase capaian rumah sehat desa Catur tunggal (98,151 %)

 

  • Penyediaan sarana air bersih

Air bersih sebagai salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau melakukan aktivitas sehari- hari.

 

Berdasarkan grafik di atas,  Jumlah sumur gali yang berada di wilayah kerja puskesmas Depok III sebanyak 17559 sumur dengan jumlah pengguna 40.093 jiwa dan saluran PDAM sebanyak 2580 dengan jumlah pengguna 5867 sehingga di puskesmas depok III akses air bersih mencapai 98,488 %.

Penyelenggara air minum yang dimaksud adalah depot air minum dan dilakukan pengambilan sampel oleh puskesmas sebagai salah satu upaya pengawasan kualitas air minum. Hasil pemeriksaan kualitas air minum dari 1 depot air minum adalah memenuhi syarat kesehatan.

 

  • Akses jamban

Akses jamban sehatoleh masyarakat sebagai salah satu upaya menurunkan angka penyakit diare.

 

  • Sarana Tempat- Tempat Umum (TTU)

Jumlah sarana tempat- tempat umum yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 76 sarana dari 77 sarana yang ada. Sarana tempat- tempat umum yang diperiksa meliputi sekolah (SD, SLTP, SLTA) dan sarana kesehatan ( puskesmas, Rumah sakit )  Hotel ( bintang dan Non bintang ) berikut adalah capaian tahun 2017:

 

  • Tempat Pengolahan Makanan (TPM)

Sarana tempat pengolahan makanan yang diperiksa meliputi jasa boga, rumah makan dan depot air minum. Jumlah sarana tempat Pengolahan makanan yang memenuhi syarat kesehatan sebanyak 115 sarana dari 155 sarana yang ada. Pelayanan KIA-KB yang bersifat UKM

  • Pelayanan KB

Pelayanan KB yang bersifat UKM meliputi  Kunjungan PUS yang belum ber KB di Wilayah Kerja Puskesmas Depok 3 sebanyak  22 kali selama tahun 2017 meliputi 1 Desa Caturtunggal, serta pelayanan IVA test setiap hari Kamis dan Sabtu (UKP).

  • Pertemuan Evaluasi PWS KIA

Pertemuan Evaluasi  PWS KIA pada tahun 2017 dilaksanakan 1x dengan mengundang lintas sektoral dan jejaring pelayanan kesehatan baik negeri maupun swasta  yang berada di wilayah  kerja Puskesmas Depok 3 .

  • Pendataan Terpadu

Pendataan terpadu di tahun 2017 dilakukan 2x diawal tahun dan di akhir tahun dengan mengundang wakil kader dari 34 Posyandu yang berada di wilayah kerja Puskesmas Depok 3. Data yang diperoleh meliputi data jumlah ibu hamil, bayi, balita, dan PUS

  • Pendampingan P4K

Kegiatan pendampingan P4K di tahun 2017 dilaksanakan oleh Bidan didampingi oleh kader di 34 Lokasi.

  • Kunjungan Ibu Hamil Faktor Resiko/Resiko Tinggi

Kunjungan rumah ibu hamil dengan faktor resiko /resiko tinggi pada tahun 2017 dilaksanakan sebanyak 20 kali.

  • Kelas Ibu Hamil

Kelas Ibu Hamil merupakan sarana untuk belajar kelompok tentang kesehatan bagi ibu hamil dalam bentuk tatap muka yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu mengenai kehamilan, persalinan, perawatan nifas dan perawatan bayi baru lahir. Pelaksanaan kelas ibu hamil pada hari rabu minggu ke III dengan jumlah ibu hamil sebanyak 10 orang. Materi yang dibahas antara lain:

  1. Pertemuan I : pemeriksaan kehamilan agar ibu dan janin sehat, aktivitas fisik/ senam ibu hamil
  2. Pertemuan II: Persalinan aman, nifas nyaman, ibu selamat, aktivitas fisik/ senam ibu hamil
  3. Pertemuan III : pencegahan penyakit komplikasi kehamilan, persalinan dan nifas agar ibu dan bayi sehat
  4. Pertemuan IV: Perawatan bayu baru lahir agar tumbuh kembang optimal, aktivitas fisik/ senam ibu hamil

Selama tahun 2017 kelas ibu hamil dilaksanakan sebanyak 9 kali dengan jumlah peserta sebanyak 90 orang.

 

  • Penyuluhan Kesehatan Reproduksi

Penyuluhan Reproduksi yang dilaksanakan dari puskesmas meliputi Penyuluhan kesehatan reproduksi di sekolah maupun di masyarakat (usia reproduksi). Adapun dana yang digunakan untuk pelaksanaan penyuluhan menggunakan dana BOK.

  1. Penyuluhan Kesehatan Reproduksi pada anak usia sekolah.

Penyuluhan kesehatan reproduksi pada anak sekolah dilaksanakan di SMP dan SMA atau sederajat, dengan sasaran kelas VII dan kelas X, sebagai pembekalan pengetahuan tentang reproduksi sehat.

  1. Penyuluhan Kesehatan Reproduksi pada usia reproduksi.

Penyuluhan kesehatan reproduksi pada usia reproduksi dilaksanakan di 4 dusun dengan materi pencegahan Kanker serviks dan kanker payudara.

 

  • Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK)

Untuk kegiatan SDIDTK UKM terdiri dari kegiatan pemantauan kesehatan balita di Posyandu dilaksanakan oleh kader Posyandu dengan terlebih dahulu dilakukan pertemuan refresing SDIDTK yang dipandu langsung bidan Penanggungjawab Program. Sedangkan untuk kegiatan SDIDTK Apras untuk di TK dan di PAUD/Playgroup/KB dilakukan oleh tim yang terdiri dari Bidan, Psikolog dan Nutrisionis untuk tahun 2017 dilakukan pada 20 TK dan 20 PAUD/PG/KB.

Pemeriksaan SDIDTK UKP di laksanakan di Poli KIA  dengan di laksanakan oleh Bidan yang bertugas di KIA..Pemeriksaan tumbuh kembang di lakukan pada bayi usia 3 bulan,6 bln, 9bln,12 bln dan balita usia 15 bln,18 bl, 21 bl, 24 bl, 30 bl, 36 bl, 42 bl, 48 bl, 54 bl, 60bl. Pedoman pemeriksaan dengan menggunakan buku pedoman SDIDTK .

  1. Pemeriksaan pertumbuhan yang di lakukan meliputi Berat badan, panjang badan dan lingkar kepala.
  2. Pemeriksaan perkembangan dengan menggunakan formulir KPSP ( Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang telah di capai anak.

Tujuan skrining dengan menggunakan KPSP untuk mengetahui perkembangan anak normal atau tidak. Alat/instrumen yang di gunakan: Formulir KPSP menurut umur berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang telah di capai anak dan Sasaran KPSP 0-72 bulan.

Interpretasi :

  1. Di hitung jumlah “Ya” nya bila hasil pemeriksaan KPSP “ya” ada 9-10 kesimpulannya perkembangan sesuai, bila hasil pemeriksaan KPSPnya “ya” 7-8 hasil perkembangan anak meragukan, bila hasil pemeriksaan KPSPnya “Ya” ada 6 atau kurang kemungkinan  ada penyimpangan perkembangan anak.
  2. Untuk Jumlah “Tidak “ perlu di rinci jumlah jawaban “Tidak” menurut jenis keterlambatan (gerak kasar,gerak halus,bicara dan bahasa,sosialisasi dan kemandirian)

Intervensi :

  1. Bila perkembangan anak sesuai (S) umur : beri pujian pada ibu karena telah mengasuh anaknya dengan baik, teruskan pola asuh sesuai tahap perkembangan anak, beri stimulasi perkembangan anak setiap saat, sesering mungkin sesuai umur dan kesiapan anak, ikutan anak pada kegiatan di Posyandu, Kelompok bermain/PAUD,lakukan pemeriksaan menggunakan KPSP sesuai  jadwal umur anak.
  2. Bila perkembangn anak meragukan (M): Beri petunjuk pada Ibu agar melakukan stimulasi perkembangan anak lebih sering lagi,setiapa saat dan sesering mungkin, ajarkan ibu cara melakukan intervensi stimulasi perkembangan anak untuk mengatasi penyimpangan /mengejar ketinggalan, lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit yang menyebabkan penyimpangan perkembangan ,lakukan penilaian ulang KPSP 2 minggu kemudian dengan menggunakan daftar KPSP yang sesuai perkembangan anak. Jika hasil KPSP ulang “Ya” tetap 7 atau 8 maka kemungkinan ada penyimpangan (P)
  3. Bila tahapan perkembangan terjadi penyimpangan (P) lakukan tindakan rujukan ke Rumah Sakit dengan menuliskan jenis dan jumlah penyimpangan perkembangan (gerak kasar,gerak halus,bicara dan bahasa,sosialisasi dan kemandirian)

Pemeriksaan SDIDTK di KIA di lakukan saat ada kegiatan imunisasi. Untuk pasien yang mempunyai JKN dengan kapitasi kita bisa di gunakan dan apabila tidak mempunyai bisa membayar sesuai tarif Perda. Hasil pemeriksaan oleh petugas bila di temukan penyimpanganpertumbuh maupun perkembangan akan di lakukan rujukan internal ke Dokter, petugas GIZI, psikolog sesuai masalah keterlambatannya. Apabila tetap di temukan penyimpangan akan segera di lakukan rujukan ke rumah sakit sesuai jenis penyimpangannya.

  1. Formulir hasil KPSP di dokumentasikan tersendiri sedang apabila ada kelainan ataupun keterlambatan diagnosenya dimasukkan ke Rekam medis anak.
  2. Hasil pemeriksaan di tulis di  buku register Balita (0-60 bl) dengan di tulis hasil KPSP nya.
  3. Hasil pemeriksaan akan di rekap bersamaan dengan hasil pemeriksaan SDIDTK oleh kader tiap bulannya dan pemeriksaan PAUD dan TK di tiap semester.
  4. Hasil pemeriksaan KPSP dan pertumbuhan anak juga di tulis oleh petugas di Buku KMS anak (0-60 bl).

 

  • Cakupan SPM Pemanatauan Wilayah Setempat (PWS) KIA

Dalam pelaksanaan program PWS KIA, Capaian SPM KIA pada tahun 2017 sebagai berikut :

  1. Cakupan kunjungan ibu hamil K-1 sebanyak 100 %
  2. Cakupan kunjungan ibu hamil K-4 tercapai 90,79%
  3. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani tercapai 100%
  4. Cakupan pelayanan nifas tercapai 97,24%
  5. Ibu hamil resiko tinggi yang dirujuk tercapai 100%
  6. Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani tercapai 100%
  7. Cakupan kunjungan neonatus tercapai 99,80%
  8. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan tercapai 100%
  9. Cakupan kunjungan neonatal (KN Lengkap) tercapai 97,43%

 

  • Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS)

Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam bidang kesehatan adalah upaya pembinaan anak usia sekolah melalui Usaha kesehatan Sekolah    (UKS). UKS dilaksanakan untuk meningkatkan  mutu pendidikan dan prestasi belajar  melalui prilaku hidup bersih  dan sehat, menciptakan lingkungan yang sehat serta meningkatkan  derajat kesehatan anak sekolah . Salah satu strategi  pemerintah untuk meningkat derajat  kesehatan anak sekolah yaitu dengan  pemberian imunisasi pada anak sekolah atau biasa disebut BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah).

Pada pelaksanaan  BIAS  pada bulan November anak kelas 1 mendapatkan imunisasi DT sedangkan anak kelas 2  mendapat suntikan Td. Sebelum pelaksanaan BIAS diadakan pertemuan lintas sektor terlebih dahulu yaitu ke UPT Yandik dan pertemuan guru UKS , diharapkan dengan adanya koordinasi yang baik dari pihak-pihak terkait, pelaksanaan BIAS dapat berjalan dengan lancar. Berikut hasil pelaksanaan BIAS  November tahun 2017 di wilayah Puskesmas Depok III :

 

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa hasil imunisasi DT pada anak kelas 1 ada 98,7 % dan imunisasi Td pada anak kelas 2 ada 98,4 %. Hal tersebut disebabkan karena pada waktu pelaksanaan BIAS di sekolah ada anak yang sakit, takut disuntik dan beberapa orang tua murid menolak dengan alasan agama serta alasan lain (tidak disebutkan alasannya). Untuk anak yang belum diiimunisasi pada bulan November, sudah dilakukan sweeping dengan cara anak dirujuk dan didampingi guru ke puskesmas.

Dengan adanya hasil BIAS tahun 2017 tersebut, puskesmas Depok III menghimbau kepada pihak sekolah dan masyarakat untuk lebih proaktif dalam pelaksanaan BIAS di tahun 2018 agar terbentuk imunitas global  sehingga tidak ada kasus PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi)

 

c.    Pelayanan Gizi yang Bersifat UKM

  1. Pemberian Vitamin A

Pemberian vitamin A dosis tinggi dilaksanakan setiap Februari dan Agustus. Kapsul  vitamin A biru ( 100.000 IU) diberikan kepada anak usia 6 – 11 bulan, sedangkan vitamin A merah (200.000 IU ) diberikan kepada anak usia 12-59 bulan. Target pemberian vitamin A dosis tinggi pada balita sebesar 98%. Berdasarkan hasil pemantauan pemberian vitamin A pada bayi dan anak balita pada tahun 2017 telah mencapai 100%. Selengkapnya terlihat pada grafik cakupan pemberian vitamin A tahun 2017 di bawah ini.

 

  1. Pemantauan Pertumbuhan Balita Di Posyandu

Keberhasilan kegiatan posyandu dapat diukur dari beberapa indikator yaitu K/S, D/S, dan N/D. K/S menunjukkan cakupan program posyandu yaitu jumlah balita di suatu wilayah posyandu yang memiliki KMS. D/S menunjukkan tingkat partisipasi masyarakat terutama ibu balita dan balita dalam kegiatan posyandu. Diukur dari jumlah balita yang datang dan ditimbang di posyandu dibandingkan dengan jumlah seluruh balita yang ada di suatu wilayah posyandu. Sedangkan N/D menunjukkan keberhasilan program yang diukur dari jumlah balita yang naik berat badannya dibandingkan jumlah balita yang datang di posyandu. Jumlah posyandu di wilayah Kerja Puskesmas Depok III ada 34 Posyandu.

Hasil pemantauan pertumbuhan balita di posyandu pada tahun 2017 dapat dilihat pada grafik berikut ini:

 

pada indikator K/S pada tahun telah mencapai 100% sesuai dengan target yang ditetapkan. Capaian indikator D/S pada posyandu wilayah Puskesmas Depok III pada tahun 2017 mencapai 81,81%. Capaian indikator D/S pada tahun 2017 belum memenuhi target yang ditetapkan yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu banyak anak usia balita yang sudah mulai sekolah di PAUD atau TK, terdapat posyandu yang kurang aktif, kegiatan posyandu yang kurang menarik dan kesadaran keluarga akan pentingnya pemantauan pertumbuhan yang masih kurang.

Upaya yang sudah dilakukan adalah melakukan penyuluhan di posyandu, monitoring dan pembinaan posyandu, pertemuan kader posyandu,  koordinasi lintas sektor , sweeping penimbangan balita dan advokasi kepada pihak desa berkaitan dengan angggaran untuk mendukung keberlangsungan posyandu. Selanjutnya rencana kegiatan pada tahun 2018 dalam upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan posyandu (D/S) khususnya untuk meningkatkan cakupan balita di PAUD dan TK, program gizi akan berkoordinasi dengan PAUD dan TK di wilayah kerja puskesmas Depok III agar melaksanakan penimbangan setiap bulan untuk anak usia balita di sekolah tersebut dan melaporkan  hasil penimbangannya ke puskesmas.

Target indikator N/D sebesar 70%. Capaian indikator N/D pada posyandu wilayah Puskesmas Depok III  pada tahun 2017 belum mencapai target. Hal ini dikarenakan kondisi kesehatan yang kurang baik berupa batuk, pilek, panas yang sering dijumpai pada anak balita sehingga nafsu makan terganggu, asupan makan berkurang. Selain itu juga pemberian makan pada bayi dan anak yang kurang tepat baik frekuensi, jumlah, tekstur, variasi, dan responsifnya. Penyebab kondisi kesehatan yang kurang baik pada balita tidak lepas dari faktor kebersihan diri dan lingkungan serta pemilihan makanan yang tidak tepat pada anak misalnya makanan atau minuman berpengawet, berpewarna, dan berpemanis.

Upaya yang sudah dilakukan adalah melaksanakan pelatihan kader tentang PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak), penyuluhan gizi di posyandu, konsultasi gizi, rujukan gizi dan pemberian PMT pada balita gizi kurang.

 

  1. ASI Eksklusif

Pemantauan ASI eksklusif dilakukan setiap bulan melalui kohort asi dan dilaporkan oleh kader setiap bulan Februari dan Agustus. Hasil pemantauan ASI eksklusif dapat dilihat pada grafik berikut ini:

 

Berdasarkan grafik di atas dapat dilihat bahwa capaian ASI eksklusif pada tahun 2017 mencapai 83.39%. Walaupun sudah mencapai target tetapi upaya tetap dilakukan agar pemberian ASI Eksklusif tetap dilaksanakan oleh masyarakat. Upaya yang sudah dilaksanakan adalah sosialisasi tentang ASI eksklusif kepada lintas sektor, memberikan penyuluhan tentang ASI eksklusif kepada ibu hamil melalui kelas bumil, konseling caten, konseling ibu hamil / ANC,  dan kunjungan rumah pada ibu yang memiliki bayi 0-6 bulan dengan tujuan memberikan pengetahuan, motivasi dan ketrampilan tentang menyusui serta pelatihan PMBA ( Pemberian Makan Bayi dan Anak )

 

  1. Pemantauan Status Gizi

Pemantauan status gizi dilaksanakan pada bulan Februari setiap tahunnya. Hasil Pemantauan status gizi ini menjadi gambaran masalah gizi balita di wilayah Puskesmas Depok III. Target KEP < 9%, Kurus <3,9%, Stunted < 12% dan Balita gemuk < 5%. Berikut hasil pemantauan status gizi pada balita di wilayah Puskesmas Depok III pada tahun 2017:

 

Berbagai faktor mempengaruhi hasil pemantauan status gizi antara lain akurasi alat ukur berat badan dan tinggi badan, pemasangan alat ukur, serta ketrampilan kader dalam melakukan pengukuran  dimana hal tersebut sangat mempengaruhi validitas data yang dikumpulkan. Upaya yang dilakukan adalah validasi data oleh petugas, monitoring alat ukur di posyandu,  pembinaan posyandu untuk meningkatkan ketrampilan kader dalam penimbangan berat badan dan pengukuran panjang badan/tinggi badan.

Hasil pemantauan status gizi menunjukkan bahwa yang belum mencapai target yaitu balita yang gemuk. Puskesmas Depok III mempunyai program inovasi yaitu TOP BIG BOS yang bertujuan untuk menangani balita gemuk sehingga prosentase balita yang gemuk tidak naik lagi. Upaya penanggulangan masalah gizi lain yang sudah dilakukan adalah melaksanakan pelatihan kader tentang PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak), penyuluhan gizi di posyandu, konsultasi gizi, rujukan gizi dan pemberian PMT pada balita gizi kurang.

 

  1. KADARZI

Kadarzi merupakan pemantauan keluarga sadar gizi yang dilihat dari 6 indikator yaitu (1)  Menimbang berat badan secara teratur, (2) Memberikan ASI saja kepada bayi sejak lahir sampai umur 6 bulan (ASI Eksklusif), (3) Makan beraneka ragam, (4) Menggunakan garam beryodium, (5) Minum Suplemen gizi sesuai anjuran (Fe untuk Bumil dan Vitamin A untuk Balita), dan (6) Sarapan pagi. Hasil pemantauan Kadarzi pada sampel masyarakat di wilayah Puskesmas Depok III pada tahun 2017 dapat dilihat pada grafik berikut ini.

 

  1. Pemantauan PMT Ibu Hamil KEK

Kehamilan adalah masa terpenting dalam siklus kehidupan seorang ibu. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah kondisi gizi ibu saat hamil. Indikator status gizi ibu hamil salah satunya dilihat dari lingkar lengan atas (LiLA). Jika lingkar lengan atas ibu hamil kurang dari 23,5 cm maka ibu mengalami kekurangan energi kronis dimana akan beresiko dengan kondisi gizi janin yang dikandungnya. Prevalensi ibu hamil KEK (Kekurangan Energi Kronis) pada tahun 2016 -2017 selengkapnya terlihat pada grafik di bawah ini:

Berdasarkan grafik di atas prevalensi ibu hamil KEK mengalami peningkatan pada tahun 2017. Hal ini kemungkinan karena faktor pencatatan kelengkapan data ibu hamil pada tahun 2017 lebih baik sehingga jumlah ibu hamil KEK yang terjaring lebih banyak.

Upaya yang dilakukan untuk menanggulangi dan mengurangi resiko dampak KEK pada ibu hamil adalah dengan memberikan edukasi dan konseling pada caten perempuan yang mengalami KEK, konseling ibu hamil KEK dan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) pada ibu hamil KEK. Tujuan dari PMT ibu hamil KEK adalah untuk meningkatkan asupan kalori pada ibu hamil tersebut sehingga kebutuhan gizi janin terpenuhi dan bayi lahir sehat. Berikut grafik cakupan PMT ibu hamil KEK pada tahun 2017:

 

Berdasarkan grafik diatas 85% ibu hamil KEK mendapat PMT. Terdapat 15% ibu hamil tidak mendapat PMT karena ibu hamil enggan mengambil pmt di puskesmas karena merasa secara ekonomi mampu untuk meningkatkan asupan gizi dan beberapa ibu tidak suka dengan bentuk PMT yang diberikan (biskuit).

  1. Pemantauan Anemia Bumil

Kondisi gizi ibu hamil selain dilihat dari LiLA (lingkar lengan atas) juga dilihat dari kadar haemoglobin darah (Hb). Jika seorang ibu hamil memiliki kadar Hb < 11 gr%, maka ibu hamil tersebut mengalami anemia. Kondisi ini beresiko terhadap kondisi kehamilannya, misalnya keguguran, gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin, bayi prematur, BBLR, dan ibu mengalami perdarahan saat persalinan.

 

Upaya yang sudah dilakukan adalah konseling bumil / ANC, penyuluhan pada ibu hamil di posyandu dan kelas ibu hamil. Berdasarkan observasi pada saat konseling gizi ibu hamil K4 yang mengalami anemia disebabkan karena kurang patuh dalam mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), kurang asupan lauk hewani sumber zat besi, kurang sayuran sebagai sumber zat besi dan vitamin C serta konsumsi teh (tanin) yang sering sebagai penghambat penyerapan zat besi.

 

 

d.    Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit meliputi pencegahan penyakit menular dan tidak manular.  Penyakit menular terdiri DBD, TBC, HIV/Aids, siphilis, Kusta, diare, pneumonia, ISPA.

Penyakit tidak menular terdiri dari Diabetes Mellitus, Hipertensi, ca nashopharyng, Ca paru, Ca payudara, Ca cervic uteri, Infarc miocard acute, gagal jantung, stroke, COPD, gagal ginjal kronis, angina pectoris, osteoporosis, kecelakaan lalu lintas, obesitas. Jumlah kunjungan PTM pada tahun 2017 sebagai berikut:

 

c.    Pelayanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat

Perkesmas adalah Suatu bidang didalam keperawatan kesehatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat, serta megutamakan pelayanan promotif dan preventif secara berkesinambungan.

Kegiatannya meliputi kegiatan didalam gedung (melakukan asuhan keperawatan di unit poli umum, ruang tindakan dan klinik keperawatan) dan di luar gedung (kunjungan rumah untuk kasus risiko tinggi dan perlu tindak lanjut)

Jenis kasus yang dikunjungi meliputi : Bumil risti, Neonatus risti, Nifas risti, lansia risti, psikosa, penatalaksanaan kasus (TBC), kurang gizi, sedangkan kasus terbanyak yang dikunjungi adalah lansia risti. Capaian kegiatan perkesmas pada tahun 2017 terus mengalami peningkatan setiap bulannya, telihat pada grafik berikut ini:

 

2.    UKM Pengembangan

3.    UKM Pengembangan

a.    Pelayanan Kesehatan Jiwa

Kegiatan yang dilakukan terkait dengan upaya pelayanan kesehatan jiwa di puskesmas Depok III meliputi pendataan pasien gangguan jiwa yang ada di wilayah kerja melalui pertemuan kader, pelatihan kader kesehatan jiwa, family gathering keluarga ODGJ, penyuluhan kesehatan jiwa di masyarakat, pertemuan tokoh agama dan toko masyarakat di wilayah kerja puskesmas, dan kunjungan rumah. Berikut ini adalah hasil kegiatan pelayanan kesehatan jiwa pada tahun 2017:

Tabel 3. Kegiatan Kesehatan Jiwa Tahun 2015-2017

KEGIATAN KESEHATAN JIWA TAHUN 2015 TAHUN 2016 TAHUN 2017
L P Jumlah L P Jumlah L P Jumlah
1 Kunjungan pasien gangguan jiwa (ODGJ)
a ∑ Kunjungan baru 513 831 1.344 399 706 1.105 14 16 30
b ∑ Kunjungan lama 381 252 633 306 227 533 274 208 482
Jumlah 894 1.083 1.977 705 933 1.638 288 224 512
c ∑ Pasien gangguan jiwa yang dirujuk 120 139 259 104 115 219 121 109 230
2 Kunjungan pasien dengan masalah kesehatan jiwa (ODMK)
a ∑ Kunjungan baru 328 716 1.044
b ∑ Kunjungan lama 25 4 29
Jumlah 353 720 1.073
3 Kasus pasung ditemukan 1 1
4 Kasus percobaan bunuh diri 2 2 1 1
5 Kasus bunuh diri 2 2 2 2 1 1
6 Penyuluhan
a ∑ Penyuluhan dengan materi Napza 26
b ∑ Penyuluhan dengan materi Kesehatan jiwa 7

 

a.    Pelayanan Usaha kesehatan Sekolah (UKS)

Sepanjang tahun 2017, berbagai kegiatan telah dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan peserta didik serta guru. Berikut ini berbagai hasil kegiatan UKS tahun 2017 mulai dari penjaringan kesehatan hingga pemantauan PHBS. Hasil Screening tahun 2017 sebagai berikut:

Grafik 7. Status Gizi Siswa SD Kelas 1

Jumlah siswa yang di screening berjumlah 843 siswa dengan hasil sebagian besar siswa baru memiliki status gizi normal sebanyak 89,92%, siswa gemuk 6,05% dan siswa kurus 4,03%.

 

Jumlah siswa yang di screening berjumlah 843 siswa dengan hasil tajam penglihatan yang normal 98,46% sedang yang tidak normal sebesar 1,54%.

Jumlah siswa yang di screening berjumlah 843 siswa dengan hasil kesehatan telinga  yang bersih sebesar 81,02% sedang yang ada serumennya sebesar 19,10%

Pelayanan kesehatan gigi juga dilaksanakan di Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah di wilayah Puskesmas Depok III Capaian pelayanan UKGS dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4. Upaya Kesehatan Gigi Sekolah Tahun 2017

No Desa UPAYA KESEHATAN GIGI SEKOLAH
Jumlah SD/MI Jumlah Murid SD Perlu Diperiksa
1 Caturtunggal 22 843 843 100%

 

Selain UKGS, juga dilaksanakan kegiatan Usaha Kegiatan Masyarakat Desa. Hasil kegiatan UKGMD pada tahun 2017 sebagai berikut:

Tabel 5. Capaian Kegiatan UKGMD Tahun 2017

NO Kegiatan UKGMD 2017
L L P Jumlah
1 Jumlah kegiatan UKGMD 5
2 Jumlah masyarakat yang diperiksa 59 23 56 79
3 Jumlah masyarakat yang memerlukan perawatan gigi 47 15 19 34
4 Jumlah masyarakat yang mendapatkan perawatan gigi 8 7 14 21
5 Jumlah penyuluhan gigi di masyarakat 15

 

Pada tahun 2017 jumlah kegiatan UKGMD 5 dusun. Sedangkan jumlah penyuluhan gigi di masyarakat 15 kali penyuluhan.

 

b.    Pelayanan Kesehatan Lansia

Pelayanan Kesehatan Lansia ditujukan kepada masyarakat yang berusia diatas 60 tahun. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi posyandu lansia, pembinaan posyandu lansia, senam lansia, refresing kader lansia, screening kesehatan lansia, PHN lansia risti. Jumlah kunjungan lansia pada tahun 2017 sebagai berikut:

 

Berdasarkan grafik dan tabel di atas jumlah kunjungan lansia ke faskes masih kurang dari target kurang dari 71% tahun 2017 karena kunjungan lansia tidak hanya di layani di puskesmas tapi di faskes yang lain seperti rumah sakit ,klinik ,dokter praktik swasta.

 

C.  Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), Kefarmasian dan Laboratorium

Selain UKM dan Perkesmas, Puskesmas juga wajib menyelenggarakan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), Kefarmasian dan Laboratorium. Beriku ini adalah capaiana kegiatan UKP:

  1. Pelayanan Pemeriksaan Umum

Pelayanan BPU menyediakan pemeriksaan, konsultasi, dan pengobatan untuk keluhan kesehatan secara umum selain tindakan dan kondisi gawat darurat, rujukan internal dan eksternal. Petugas di BPU meliputi dokter umum, perawat dan petugas administrasi. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pelayanan BP Umum juga terintegrasi dengan semua pelayanan lainnya. Kunjungan di BP umum pada tahun 2017 sebanyak 25.128, berikut grafik kunjungan BP Umum berdasarkan berdasarkan bulan.

diketahui bahwa jumlah rujukan BPJS mengalami peningkatan, oleh karena itu di BPU juga memerlukan sarana dan prasarana yang lebih baik, berupa komputer, printer, serta koneksi dengan kualitas terbaik agar pelayanan rujukan eksternal dapat terlayani dengan akurat, cepat dan tepat, sehingga mempercepat pelayanan dan meningkatkan kepuasan pasien.

 

  1. Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut

Jumlah kunjungan total  pasien gigi  5914 Jumlah pasien total terdiri dari jumlah kunjungan  pasien baru dan kunjungan  pasien lama. Pasien baru adalah pasien yang sama sekali belum pernah berkunjung ke unit BP Gigi dalam jangka waktu satu tahun kalender ( Januari – Desember), sedangkan pasien lama adalah pasien yang pernah berkunjung ke unit BP Gigi dalam jangka waktu satu tahun kalender.

Berdasarkan grafik di atas kita dapatkan tiga besar diagnosa penyakit gigi sebagai berikut

  1. Penyakit pulpa
  2. Penyakit periodontal
  3. Karies gigi

 

  1. Pelayan KIA-KB yang bersifat UKP

Pelayanan Poli KIA Puskesmas meliputi pelayanan :

  1. Ibu hamil
  2. Ibu nifas
  3. Pemeriksaan neonatal-bayi-balita
  4. Ibu dengan keluhan kesehatan reproduksi
  5. Imunisasi
  6. Deteksi Tumbuh kembang bayi-balita
  7. Pemeriksaan IVA
  8. Pelayanan KB

Pelayanan Poli KIA mengalami perubahan jadwal pelayanan dikarenakan jumlah kunjungan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kunjungan Poli KIA dan KB pada tahun 2017 sebanyak 4225 kunjungan.

Untuk meningkatkan pelayanan dan kepuasan pelanggan di KIA, mulai Bulan Februari 2018 jadwal pelayanan Poli KIA sebagai berikut:

  1. Pemeriksaan ibu hamil: Senin, Selasa
  2. Pelayanan Imunisasi :
  • Penta bio dan IPV (Injeksi Polio Vaksin) : Rabu
  • BCG dan MR       : Senin Minggu I dan Minggu 2
  1. Pelayanan KB (PIL, Suntik, Implan, IUD) : Kamis
  2. Deteksi tumbuh kembang bayi balita       : Senin dan Rabu

Pelayanan KB buka setiap hari Kamis, meliputi :IUD, implant, suntik, pil, kondom, konsultasi KB dan kesehatan reproduksi, IVA. Jumlah akseptor KB  baru yang dilayani di Poli KB tahun 2017 : IUD sebanyak 41 akseptor dan IUD pasca salin 2 akseptor, Implant sebanyak 4 akseptor, Suntik sebanyak  38 akseptor, Kondom sebanyak 1 akseptor, Pil sebanyak 5 akseptor , sedangkan Jumlah akseptor KB Lama yang dilayani di Klinik KB tahun 2017 : IUD sebanyak 123 akseptor, Implant sebanyak 18 akseptor, Suntik sebanyak 415 akseptor, Kondom sebanyak 2 akseptor, Pil sebanyak 36 akseptor, MOW sebanyak 1 akseptor. Jumlah IVA yang dilayani  68 orang dari jumlah tersebut terdeteksi IVA positif sebanyak 3 orang.

Imunisasi merupakan upaya preventif yang telah terbukti sangat cost effektif dalam menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). PD3I yang saat ini masuk dalam program imunisasi di Indonesia adalah Hepatitis B, Polio, Campak, Rubella, Perthusis, Diptheri, Tetanus, Hemophilus Influensa  type B (HiB) dan TBC. Pelaksanaan imunisasi dapat diukur dengan tingginya cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi tanpa mengesampingkan  aspek kualitas.

Cakupan imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Depok 3 tidak lepas dari kualitas pelayanan imunisasi di Puskesmas depok 3 dan Unit Pelayanan Swasta (UPS) di wilayah kerja Puskesmas Depok 3..

 

  1. Pelayanan Gawat Darurat/Unit 24 jam Terbatas (U24JT)

Pelayanan 24 jam terbatas Depok III merupakan pintu gerbang masuknya pasien yang membutuhkan pertolongan cepat dan tepat. Menggunakan sistem triage (sistem seleksi penderita).

Pasien dikategorikan sesuai tingkat kegawatan dan prioritas penanganan dengan kode warna: merah, kuning, hijau, dan hitam. Selain itu untuk menunjang penegakkan diagnosa agar lebih tepat dan akurat untuk penanganan yang cepat dan sesuai, didukung Farmasi 24 jam, Laboratorium, dan Radiologi yang beroperasional dipagi hari, dan alat alat lain seperti EKG. U24JT melayani permintaan visum. U24JT24 jam terbatas memiliki tenaga kesehatan yang ahli di bidangnya, dan memiliki kompetensi penanganan pasien gawat darurat yang tersertifikasi dengan pelatihan ACLS dan PPGD.

Pada tahun 2017 kunjungan U24JT mengalami penurunan dikarenakan adanya beberapa puskesmas rawat inap yang buka selama 24 jam.

  1. Pelayanan Gizi yang besifat UKP
  2. Konsultasi Gizi

Jumlah kunjungan konsultasi gizi pada tahun 2017 sebanyak 1213 yang terdistribusi  bervariasi setiap bulannya. Kunjungan terbanyak terjadi pada bulan Agustus 2017, dan paling sedikit pada bulan desember dan Juni 2017. Selengkapnya jumlah kunjungan konsultasi gii tahun 2017 terlihat pada grafik berikut.

 

  1. Pelayanan Kefarmasian

Kegiatan Pelayanan Kefarmasian meliputi:

  1. Pengelolaan Obat Dan Bahan Medis Habis Pakai
  2. Perencanaan

Kegiatan seleksi obat dan bahan medis habis pakai untuk menentukan jenis dan jumlah obat dalam rangka pemenuhan kebutuhan puskesmas. Pemilihan obat berdasar Formularium Nasional, Formularium Kabupaten dan Formularium Puskesmas. Perencanaan dilakukan setiap tahun sekali. Perkiraan kebutuhan dihitung dengan metode konsumsi, yaitu konsumsi obat tahun sebelumnya dan disesuaikan dengan tren pemakaian obat dan BMHP.

  1. Permintaan

Permintaan obat dan BMHP setiap bulan sekali dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat kepada UPT POAK. LPLPO dikumpulkan sebelum tanggal 10 setiap bulannya. Jumlah permintaan berdasarkan jumlah pemakaian dan sisa stok.

  1. Penerimaan

Melakukan penerimaan sesuai dengan permintaan yang diajukan oleh puskesmas. Petugas penerima wajib melakukan pengecekan terhadap obat dan BMHP yang diserahkan, mencakup jumlah kemasan/box, jenis dan jumlah obat, tanggal kadaluarsa, no. batch, bentuk sediaan sesuai dengan isi dokumen (LPLPO) dan ditandatangani oleh petugas penerima.

  1. Penyimpanan

Kegiatan pengaturan terhadap obat yang diterima agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia yang mutunya tetap terjamin, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.

Penyimpanan obat dan BMHP dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

  • bentuk dan jenis sediaan
  • stabilitas (suhu, cahaya, kelembaban)
  • mudah atau tidaknya meledak/terbakar
  • psikotropika disimpan dalam lemari khusus.
  • Pendistribusian

Pengeluaran dan penyerahan obat dan BMHP untuk memenuhi kebutuhan sub unit pelayanan kesehatan yaitu : Kamar Obat, BP Gigi, Laboratorium, poli KB, Poli Umum, Pusling dan P3K. Jumlah pendistribusian obat sesuai dengan jumlah permintaan pada LPLPO masing-masing sub unit.

 

  1. Pengendalian

Kegiatan untuk memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan strategi dan program yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan/kekosongan obat di unit pelayanan.

Pengendalian obat terdiri dari :

  • Pengendalian persediaan, dengan membuat stok minimal gudang farmasi puskesmas
  • Pengendalian penggunaan
  • Penanganan obat hilang, rusak, dan kadaluwarsa
  • Pencatatan, Pelaporan dan pengarsipan.

Kegiatan dalam rangka penatalaksanaan obat dan BMHP secara tertib dalam penerimaan, penyimpanan dan pendistribusian yang tujuannya sebagai :

  • Bukti bahwa pengelolaan obat dan BMHP telah dilakukan.
  • Sumber data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian
  • Sumber data untuk pembuatan laporan.
  1. Pemantauan dan evaluasi pengelolaan obat dan BMHP

Dilakukan secara periodik dengan tujuan untuk mengendalikan dan menghindari terjadinya kesalahan dalam pengelolaan obat dan BMHP sehingga dapat menjaga kualitas maupun pemerataan pelayanan, dan memperbaiki secara terus-menerus pengelolaan obat dan BMHP.

  1. Pelayanan Farmasi klinik
  2. Pengkajian Resep, Penyerahan Obat, dan Pemberian Informasi obat

Mengkaji resep dimulai dari seleksi persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik dan persyaratan klinis untuk pasien rawat jalan, kemudian dilanjutkan dengan menyiapkan/meracik obat, memberikan label/etiket dan menyerahkan sediaan farmasi dengan informasi yang memadai disertai pendokumentasian.

Tujuannya adalah pasien memperoleh obat yang sesuai dengan kebutuhan klinis/pengobatan dan pasien paham dan patuh pada instruksi pengobatan.

  1. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
  2. Memberikan dan menyebarkan informasi kepada pasien/masyarakat secara proaktif dan pasif.
  3. Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan melalui telepon, surat atau tatap muka.
  4. Membuat leaflet, label obat, poster dll.
  5. Melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan dan masyarakat.
  6. Melakukan pendidikan dan/atau pelatihan bagi tenaga kefarmasian dan tenaga kesehatan lainnya terkait dengan obat dan BMHP.
  7. Konseling
  8. Membuka komunikasi antara apoteker dengan pasien.
  9. Menanyakan hal-hal yang menyangkut obat yang dikatakan oleh dokter kepada pasien dengan metode pertanyaan terbuka (open-ended-question), misalnya apa yang dikatakan dokter mengenai obat, bagaimana cara pemakaian, apa efek yang diharapkan dari obat tersebut, dan laian-lain.
  10. Memperagakan dan menjelaskan mengenai cara penggunaan obat.
  11. Verifikasi akhir, yaitu mengecek pemahaman pasien, mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan cara penggunaan obat untuk mengoptimalkan terapi.

Setelah dilakukan konseling apabila diperlukan bisa dilakukan pelayanan kefarmasian di rumah (Home Pharmacy Care) yang bertujuan tercapainya keberhasilan terapi obat.

  1. Pemantauan dan pelaporan Efek Samping Obat (ESO)
  2. Menganalisis laporan efek samping obat.
  3. Mengidentifikasi obat dan pasien yang mempunyai resiko tinggi mengalami efek samping obat.
  4. Mengisi formulir Monitoring Efek Samping Obat (MESO).
  5. Melaporkan secara berjenjang ke kepala puskesmas dan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman.

Pemantauan dilakukan dengan bekerja sama dengan tim kesehatan lain dan menyediakan formulir Monitoring Efek Samping Obat.

  1. Pemantauan Terapi Obat (PTO)

Proses untuk memastikan bahwa seorang pasien mendapatkan terapi obat yang efektif, terjangkau dengan memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping.

Kegiatan :

  1. Memilih pasien yang memenuhi kriteria.
  2. Membuat catatan awal.
  3. Memperkenalkan diri pada pasien.
  4. Memberikan penjelasan pada pasien.
  5. Mengambil data yang dibutuhkan.
  6. Melakukan evaluasi.
  7. Memberikan rekomendasi.
  8. Evaluasi Penggunaan Obat

Kegiatan untuk mengevaluasi penggunaan obat secara terstruktur dan berkesinambungan untuk menjamin obat-obat yang digunakan sesuai indikasi, efektif, aman dan terjangkau (rasional).

  1. Kunjungan Resep Obat Puskesmas Depok III

Kunjungan resep obat di Puskesmas Depok III pada tahun 2017 dapat dilihat pada grafik dibawah ini : Pelayanan Laboratorium

  1. Kemampuan Pemeriksaan, Metode, dan Reagen
  2. Kemampuan pemeriksaan di Puskesmas Depok III meliputi pemeriksaan-pemeriksaan dasar seperti :
  3. Hematologi : hemoglobin, hematokrit, jumlah eritrosit, jumlah leukosit, jumlah trombost, hitung jenis leukosit, LED, masa perdarahan dan masa pembekuan.
  4. Kimia klinik : glukosa, asam urat, cholesterol, trigliserid.
  5. Mikrobiologi dan parasitologi : BTA, preparat Gram, preparat GO, Trichomonas sp, jamur dan spora (pada permukaan dan sekret), malaria.
  6. Imunologi : Tes kehamilan, golongan darah, widal, HbsAg, Anti HIV, NS1 dengue, IgG IgM dengue, Anti Syphilis, RPR titer, Ig G Ig M Letospira.
  7. Urinalisa : makroskopis (warna, kejernihan, bau, volume), Ph, berat jenis, protein, glukosa, bilirubin, urobilinogen, keton, nitrit, leukosit, eritrosit, dan mikroskopis (sedimen urin).
  8. Tes Narkoba : BZO, AMP, MET, THC
  9. Feses : feses rutin (makroskopis dan mikroskopis)
  10. Metode

Pemeriksaan di laboratorium Puskesmas Depok III menggunakan metode manual, semi automatik, dan automatik.

  1. Reagen

Reagen yang digunakan disesuaikan dengan metode yang digunakan utuk tiap pemeriksaan di Laboratorium Puskesmas Depok III. Penanganan dan penyimpanan reagen harus sesuai persyaratan.

  1. Kunjungan Pasien Laboratorium Puskesmas Depok III

Kunjungan pasien laboratorium dalam gedung di Puskesmas Depok III pada tahun 2017 terbanyak pada bulan maret sebanyak 678 kunjungan dan terendah pada bulan juni yaitu sebanyak 360 kunjungan. Kunjungan pasien laboratorium di Puskesmas Depok III pada tahun 2017 dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

Grafik 42. Kunjungan Laboratorium Dalam Gedung Tahun 2017

Sedangkan untuk kunjungan pasien laboratorium luar gedung di Puskesmas Depok III pada tahun 2017 terbanyak pada bulan oktober sebanyak 167 kunjungan dan terendah pada bulan juni yaitu sebanyak 15 kunjungan. Kunjungan pasien laboratorium di Puskesmas Depok III pada tahun 2017 dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

 

 

Pada grafik dibawah ini dapat dilihat jumlah spesimen yang diperiksa di laboratorium Puskesmas Depok III.

Jumlah Pemeriksaan hematologi terbanyak yaitu pemeriksaan hemoglobin dengan jumlah 2390 pemeriksaan pada tahun 2017. Parameter pemeriksaan terkecil yaitu waktu perdarahan dan waktu pembekuan yaitu 0 pemeriksaan

 

Jumlah pemeriksaan kimia klinik terbanyak yaitu pemeriksaan glukosa darah sebanyak 3687 dan jumlah pemeriksaan terkecil yaitu trigliserid sebanyak 397

 

dapat dilihat bahwa pemeriksaan anti HIV merupakan pemeriksaan terbanyak pada kelompok pemeriksaan imunoserologi dengan jumlah 734 pemeriksaan pada tahun 2017.

 

Dari grafik diatas jumlah pemeriksaan urin rutin menempati urutan pertama dalam kelompok pemeriksaan urin, parasitologi dan bakteriologi dengan jumlah 1101 pemeriksaan di tahun 2017.

Puskesmas Depok III mengalami kenaikan setiap tahun, baik kunjungan dalam gedung maupun kunjungan luar gedung.

 

Pada grafik diatas terlihat bahwa untuk parameter hematologi mengalami penurunan dari tahun 2016. Sedangkan untuk parameter pemeriksaan yang lain mengalami kenaikan.

 

  1. Pelayanan Konseling Sanitasi

Pelayanan konseling sanitasi adalah kegiatan untuk membantu pasien/klien dalam memperoleh informasi tentang masalah kesehatan, memahami dirinya, menghadapi masalah kesehatan, mengutarakan isi hatinya, mengantisipasi harapan dan kapasitas merubah perilaku, meningkatkan dan memperkuat motivasi untuk merubah perilaku, menghadapi kecemasan dengan masalah kesehatan lingkungan.

Pelayanan konseling meliputi :

  1. Pelayanan pasien yang menderita penyakit dan atau gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh faktor risiko lingkungan.
Pelayanan pasien yang dating untuk berkonsultasi masalah kesehatan lingkungan (dapat disebut klien).
Jumlah kunjungan konseling sanitasi di tahun 2017 yang paling  banyak di bulan november
(36 kunjungan ) karena ada pemeriksaan untuk Pembinaan makanan jajanan, sedangkan yang paling sedikit di bulan september 2017

 

  1. Pelayanan Psikologi
  2. Konseling Individu Dalam Gedung

Salah satu jenis pelayanan Psikolog di Puskesmas Depok III adalah pelayanan konseling individu. Jenis pelayanan ini memberikan fasilitas pelayanan secara individual oleh psikolog yang dapat dilakukan di dalam gedung dan diluar gedung puskesmas. Konseling individu adalah hubungan profesional yang bersifat terapiutik antara konselor dengan klien yang dilakukan secara individual. Tujuan dari pelayanan ini adalah untuk membantu klien menyadari potensi yang dimiliki serta memanfaatkan potensi mentalnya secara optimal demi peningkatan kualitas penyesuaian diri sendiri maupun lingkungan sekitar.

Berdasarkan data yang ada di Puskesmas Depok III, didapatkan hasil bahwa mulai tahun 2015 sampai 2017, jumlah cakupan konseling individu yang dilakukan oleh Psikolog Puskesmas menunjukkan peningkatan. Peningkatan jumlah tersebut meliputi pasien baru maupun pasien lama. Status kunjungan pasien baru atau lama dilihat dari kunjungan pasien tersebut merupakan kunjungan pertama atau kunjungan ulang di Poli Psikologi. Peningkatan jumlah cakupan konseling ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan psikologi yang dilakukan di Puskesmas. Selain itu, peningkatan tersebut juga menunjukkan upaya yang komprehensif terhadap peningkatan kesehatan masyarakat, yang tidak hanya terhadap kesehatan jasmani tetapi juga kesehatan psikologis.

 

  1. Alasan Ke Poli Psikologi

Alasan kunjungan ke poli psikologi meliputi Kunjungan Atas Rujukan (Internal & Eksternal) dan Atas Permintaan Sendiri (APS).

  • Kunjungan Atas Rujukan (Internal & Eksternal)

Kunjungan atas rujukan merupakan kunjungan pasien di poli psikologi yang dilakukan berdasarkan rujukan dari internal maupun eksternal puskesmas. Rujukan internal pada Puskesmas Depok III dapat berasal dari BP Umum, BP Gigi, Pelayanan KIA, Pelayanan Gizi, Pelayanan Fisioterapi, Pelayanan 24 Jam Terbatas, dan Pelayanan Rawat Inap. Sedangkan rujukan eksternal puskesmas dapat berasal dari dokter/bidan praktek swasta, puskesmas lain, sekolah ataupun rumah sakit. Berdasarkan data yang disajikan pada Gambar 3, terjadi peningkatan jumlah kunjungan rujukan pada tahun 2016 dari tahun 2015 dan pada tahun 2017 dari tahun 2016 terjadi sedikit penurunan. Data ini menunjukkan bahwa terjadi kerjasama yang baik antara psikolog dengan profesi lain sejawat dalam melakukan pelayanan komprehensif terhadap masyarakat.

  • Atas Permintaan Sendiri (APS)

Kunjungan atas permintaan sendiri (APS) merupakan kunjungan pasien di pelayanan psikologi yang dilakukan atas inisiatif pasien sendiri. Berdasarkan data yang disajikan pada Gambar 3, tampak perbandingan yang cukup jauh antara kunjungan pasien rujukan dan APS. Berdasarkan tren kunjungan saat ini, pasien mengoptimalkan pelayanan dengan Kartu Indonesia Sehat yang dapat dipergunakan untuk pemeriksaan psikologi jika ada indikasi klinis yang ditunjukkan dengan rujukan dari BP Umum. Meskipun demikian, data ini menunjukkan bahwa ada kesadaran dan inisiatif dari masyarakat untuk mencari bantuan pelayanan psikologis sesuai dengan kebutuhan yang dialami. Berikut ini adalah grafik alasan kunjungan ke Poli Psikologi tahun 2015 sampai tahun 2017:

 

 

  1. Konseling Kelompok

Perbandingan jumlah konseling kelompok dari tahun 2015 – 2017

  • Konseling Keluarga (Jumlah Sesi & Jumlah Peserta)

 

 

Pelayanan konseling keluarga adalah jenis pelayanan psikologi yang melibatkan beberapa orang dengan hubungan darah atau hubungan kekerabatan. Pelayanan konseling keluarga dilakukan dengan beberapa pertimbangan, yaitu klien menyetujui untuk dilakukannya konseling keluarga dan intervensi psikologis akan lebih efektif jika melibatkan keluarga sebagai significant others klien. Berdasarkan Gambar 4, dapat dilihat bahwa jumlah sesi dan peserta sesi konseling keluarga terdapat sedikit penurunan.

  • Konseling Caten (Jumlah Sesi & Jumlah Peserta)

 

Pelayanan konseling caten adalah jenis pelayanan psikologi yang diberikan kepada pasangan calon pengantin. Pelayanan konseling caten ini merupakan pelayanan terintegrasi yang melibatkan beberapa poli di puskesmas. Konseling caten bertujuan untuk membantu pasangan mempersiapkan diri menghadapi peran baru dalam sebuah keluarga. Berdasarkan Gambar 5, dapat dilihat bahwa jumlah sesi dan peserta sesi konseling caten menunjukkan penurunan dari tahun 2015-2017. Pelayanan konseling caten dapat diharapkan dapat bermanfaat dalam peningkatan kesejahteraan calon keluarga baru.

 

  1. Penyuluhan

Salah satu cakupan pelayanan psikologi adalah promosi kesehatan mental masyarakat. Oleh karena itu, penyuluhan merupakan kegiatan yang rutin dilakukan oleh puskesmas. Penyuluhan yang dilakukan bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan kesehatan mental individu maupun masyarakat. Kegiatan penyuluhan dilakukan di berbagai tempat, seperti sekolah (TK/PAUD, SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA), kelompok masyarakat (karang taruna, PKK, kader), maupun tempat lainnya (KUA, Lapas), Brikut ini adalah penyuluhan yang dilaksanakan pada Tahun 2015-2017:

 

Pada setiap penyuluhan, materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Penyuluhan yang pernah dilakukan oleh puskesmas adalah penyuluhan tentang kesehatan reproduksi pada remaja, deteksi dini kesehatan jiwa dan upaya penanganannya, HIV/AIDS, peningkatan motivasi menghadapi ujian, pengasuhan positif, lansia sehat, dll). Dalam penyuluhan tersebut, psikolog bekerja sama dengan petugas lain, seperti bidan, perawat, petugas pemegang program UKS, petugas pemegang program kesehatan jiwa, petugas pemegang program lansia, dll.

 

  1. Sepuluh Besar Gangguan Jiwa di Puskesmas Tahun 2017

 

Pada tahun 2017, peringkat 10 besar gangguan jiwa di puskesmas adalah Pemeriksaan dan pertemuan untuk tujuan administrative (Z 02) yang menempati urutan pertama, Faktor Psikologis dan Perilaku yang berhubungan dengan Gangguan atau Penyakit Ydk (F 54) di urutan kedua, Problem yang berkaitan dengan gaya hidup (Z 72) di urutan ketiga, Problem yang berkaitan dengan keadaan psikososial tertentu (Z 64) di urutan keempat , dan Problem lainnya yang berkaitan dengan kelompok pendukung utama (primary support group), termasuk keadaan keluarga (Z 63) di urutan kelima, Gangguan Kecemasan Menyeluruh (F 41) di urutan keenam, Episode Depresif (F 32) di urutan ketujuh, Problem lainnya yang berkaitan dengan pengasuhan (Z 62) di urutan kedelapan, Gangguan emosional dengan onset khas pada masa kanan (F 93) di urutan kesembilan, dan Gangguan tidur non-organik (F 51) di urutan kesepuluh.

 

  1. Pemeriksaan Psikologis Siswa di Sekolah

Berikut ini adalah Jumlah siswa yang mendapatkan konseling/ pemeriksaan psikologi tahun 2015 – 2017:

Berdasarkan Gambar 11 di atas, siswa SMA banyak mendapatkan pelayanan konseling dan pemeriksaan psikologi di tahun 2015. Pelayanan konseling dilakukan untuk memfasilitasi siswa dalam menemukan potensi untuk mengatasi permasalahan yang dialami, baik itu permasalahan yang berkaitan dengan pendidikan maupun yang bersifat personal (relasi siswa dan sesamanya). Pemeriksaan psikologi yang dilakukan adalah skrining kesehatan remaja (fisik, reproduksi, mental, afeksi), tes psikologi, maupun tes kepribadian.

 

  1. Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis)

Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) adalah sistem pelayanan kesehatan dan pendekatan proaktif yang melibatkan peserta, fasilitas kesehatan, dan BPJS Kesehatan dalam rangka memelihara kesehatan peserta BPJS Kesehatan yang menderita penyakit kronis, sehingga dapat mencapai kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan efektif dan efisien. Prolanis di Puskesmas Depok III di selengggarakan sejak 12 Juni 2016. Prolanis yang di tangani di Puskesmas Depok III terdiri dari 2 jenis penyakit kronis, yaitu Hipertensi yang tergabung dalam Club Lansia Sehat Pudega dan Diabetes Mellitus yang tergabung dalam Club Lansia Sehat Pudega . Jumlah prolanis hipertensi sejumlah 51 dan jumlah prolanis DM sejumlah 67 peserta.

Kegiatan yang dilaksanakan terkait dengan prolanis yaitu:

  1. Klinik prolanis : dilaksanakan pada hari Rabu minggu pertama, kedua dan ketiga untuk prolanis DM.
  2. Prolanis hipertensi setiap hari Rabu minggu keempat.
  3. Senam : dilaksanakan setiap Hari Jumat minggu keempat
  4. Penyuluhan kesehatan : Dilaksanakan setiap pertemuan dan pemeriksaan
  5. Refresing peserta prolanis dilaksanakan setahun sekali berupa rekreasi
  6. Syawalan dilakukan setiap tahun sekali
  7. Remaindder dilakukan melalui group WA atau pengumuman di puskesmas

 

D.  Jaringan Pelayanan Puskesmas dan Jejaring Pelayanan Kesehatan Masyarakat

 

  1. Pelayanan Puskesmas Keliling

 

  1. Pelayanan Bidan Desa

Bidan desa di Puskesmas Depok 3 terdiri dari 1 pegawai CPNS. Tugas bidan desa antara lain: melakukan SMD, melakukan MMD, melaksanalan  kegiatan surveilens penyakit bersama pemegang program puskesmas dan masyarakat, mengkoordinasikan Pemantauan Jentik Berkala (PJB), dan PHBS. Bidan Desa melaksanakan rapat koordinasi dengan Desa yang dilaksanakan setiap sebulan sekali.

  1. Jejaring fasilitas Pelayanan Kesehatan

Meliputi dokter keluarga yang bermitra dengan BPJS, 1 bidan praktek swasta, 1 laboratorium kesehatan, 1 apotek mitra BPJS,  dan dan 8 RS Rujukan.

 

E.    Sarana dan Tenaga Kesehatan

1.    Sarana Kesehatan

Sarana kesehatan di Puskesmas Depok III terdiri dari Puskesmas induk, 1 Bidan praktek swasta dan 2 Dokter praktek swasta.

2.           Tenaga Kesehatan

Jumlah tenaga yang bekerja di Puskesmas Depok III adalah sebagai berikut :

Tabel 9. Jumlah Tenaga PNS Tahun 2017

 No. Jabatan Pendidikan Jumlah
SD SLTA D-I D-II D-III D-IV S1 S2/Sp
 A. PNS
1 Ka. Puskesmas 1 1
2 Ka. Subbag TU 1 1
3 Dokter Umum 1 1
4 Dokter Gigi 2 2
5 Bidan 3 1 4
6 Perawat 6 6
7 Perawat Gigi 1 1 2
8 Asisten Apoteker 1 1
9 Analis Lab. 1 1 2
10 Sanitarian 1 1 2
11 Nutrisionis 1 1 2
12 Perekam Medis 2 2
13 Administrasi umum 1 4 5
Jumlah 1 4 0 0 16 4 4 2 31

 

Tabel 10. Tenaga Non PNS Tahun 2017

No Jabatan Pendidikan Jumlah
SMP SLTA D-I D-II D-III D-IV S1 S2/Sp
B. Non PNS
1 Dokter 2 2
2 Apoteker 1 1
3 Psikolog 1 1
4 Akuntansi 1 1
8 Perekam Medis 2 2
10 Promkes 1 1
11 Pengelola aset & IT 1 1
12 Pengemudi 1 1
13 Satpam 1 1
14 Cleaning service 2 2
15 Jaga malam 1 1
Jumlah 0 5 0 0 3 0 5 1 14

 

 

 

 

 

BAB V
POLA SEPULUH BESAR PENYAKIT

 

Pola penyakit di Puskesmas Depok III untuk semua golongan umur terbanyak dengan diagnosa  : Ispa 7622 kasus, penyakit pulpa dan jaringan periapikal 5020, Demam yang tdk diketahui sebabnya 3487, hipertensi 3168 kasus, luka terbuka 3027 kasus, dispepsia 1598 kasus, diabetes